FENOMENA PAN DAN AMIEN RAIS
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa akhirnya terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) dalam Kongres Batam. Amien Rais ditengarai berada di balik terpilihnya Hatta, mundurnya Dradjat Wibowo, dan suasana kongres yang berjalan mulus tersebut. Apa dampaknya bagi PAN ke depan?
Sulit dibantah bahwa keberadaan PAN hampir tak bisa dipisahkan dari Amien Rais. Sebagai deklator utama PAN Amien bahkan merasa perlu mengawal arah politik parpol yang pernah dipimpinnya pada periode 1999-2005 ini. Munculnya duet Hatta Radjasa dan Dradjat Wibowo, wakil ketua umum, merupakan keberhasilan Amien sebagai play maker tunggal Kongres PAN di Batam. Termasuk di dalamnya mendesak Dradjat mundur dari pencalonan dan kemudian memintanya menjadi wakil ketua mendampingi Hatta.
Yang tak kalah menarik, di usia yang semakin menua, Amien Rais ternyata masih bersedia pula menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PAN, padahal sebelumnya dia memberi sinyal untuk mundur dari struktur partai. Lalu, ke mana geliat dan semangat reformasi yang pernah menjadi ciri PAN?
Fenomena PAN
Bayang-bayang Amien Rais dalam politik PAN sebenarnya sudah tampak sejak awal kelahiran partai bergambar matahari biru ini. Meski demikian pada periode pertama PAN, kelektifitas dan kolegialitas kepemimpinan relatif masih tampak. Ide-ide perubahan juga masih beredar kencang di dalam partai. Karena itu tak sedikit tokoh reformis turut bergabung di partai ini.
Namun ketika muncul kecenderungan Amien Rais untuk ”menyetir” arah partai, kolegialitas ditanggalkan, ekslusifitas mengemuka, dan konservatisme melembaga, tokoh-tokoh reformis seperti Faisal Basri, Bara Hasibuan dan yang lain meninggalkan PAN. Seperti kecenderungan partai-partai lain, PAN akhirnya memilih merapatkan diri dengan kekuasaan ketimbang menjadi diri sendiri sebagai ikon reformasi.
Tidak mengherankan jika dalam Pemilu 2004 dan 2009 PAN tampil tanpa visi perubahan yang jelas. Meskipun dukungan terhadap Amien Rais (dan Siswono Yudhohusodo) dalam Pemilu Presiden 2004 sedikit lebih besar dari perolehan suara PAN dalam pemilu legislatif tahun yang sama, PAN dan Amien telah kehilangan pamornya. Yang tersisa kemudian adalah para politisi yang menjadikan PAN sekadar sebagai kendaraan politik untuk meraih kursi legislatif atau jabatan publik di pemerintahan.
Fenomena Amien Rais
Kesediaan mantan Ketua MPR Amien Rais untuk memimpin kembali Dewan Pertimbangan PAN jelas merupakan hak politik yang bersangkutan. Namun sulit dipungkiri bahwa kesediaan tersebut tidak hanya membatasi pergiliran kesempatan bagi tampilnya tokoh senior PAN lainnya. Lebih dari itu, Amien Rais sesungguhnya memilih tetap ”memperkecil” dirinya sendiri, yakni sekadar sebagai ”tokoh partai” ketimbang menjadi ”besar” sebagai tokoh bangsa kita.
Sebagai mantan calon presiden dan Ketua MPR, PAN semestinya sudah terlalu kecil untuk seorang Amien Rais. Namun guru besar UGM ini tampaknya memilih tunduk pada kehendak kongres ketimbang secara cerdas membaca nurani publik dan kebutuhan obyektif bangsa kita. Persoalannya, bangsa ini membutuhkan tokoh-tokoh yang tidak sekadar berbaju partai, tetapi mereka yang bisa melampau batas-batas kepentingan sempit partai yang acapkali terkontaminasi kepentingan jangka pendek kelompok dan perorangan politisi partai.
Konsekuensi logis dari pilihan politik Amien Rais adalah bahwa gagasan apa pun yang muncul dari mantan Ketua PP Muhammadiyah ini akan cenderung dipandang publik sebagai ide partisan tokoh partai. Itu artinya, semakin terbatas ruang bagi Amien untuk memberikan pencerahan dan pencerdasan politik bagi negerinya. Juga semakin terbatas ruang bagi Amien untuk mengoreksi jalannya pemerintahan Presiden Yudhoyono, karena itu berarti akan menyulitkan posisi Hatta Radjasa sebagai Ketua Umum PAN sekaligus Menko Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu jilid II.
Nomor Tiga
Barangkali itulah dilema memilih ketua umum partai yang tengah menjabat menteri seperti Hatta Radjasa. Sebagai Menko Perekonomian, posisi Hatta bisa jadi memang menguntungkan PAN dari segi konsolidasi sumberdaya bagi partai. Namun yang dilupakan oleh Amien Rais dan peserta Kongres Batam adalah semakin minornya suara PAN selama lima tahun ke depan. Sebagai tangan kanan Presiden yang loyal, Hatta jelas akan lebih banyak tampil sebagai ”juru bicara” Yudhoyono ketimbang sebagai juru bicara PAN.
Seperti telah dialami Jusuf Kalla yang didaulat menjadi Ketua Umum Golkar ketika menjabat wapres, kredit kinerja Hatta Radjasa sebagai Menko Perekonomian akan cenderung dipandang publik sebagai kerja dan kesuksesan Partai Demokrat ketimbang keberhasilan PAN. Parpol bergambar matahari biru ini bakal menghadapi kegamangan yang sama seperti dialami partai beringin menjelang Pemilu 2009. Risiko politik semacam ini tampaknya kurang diperhitungkan oleh Amien Rais dan kalangan PAN.
Kini persoalannya terpulang kepada Amien Rais dan Hatta Radjasa, apakah sekadar menjadi pengawal setia koalisi politik yang dibentuk Presiden Yudhoyono, atau menjadi juru bicara yang kritis untuk menyelesaikan aneka persoalan bangsa ini. Jika pilihan itu lebih pada yang pertama maka target menjadi nomor tiga dalam Pemilu 2014 barangkali terlalu mewah bagi PAN.
(Dimuat Kompas, 12 Januari 2010).
Tulisan ini pertama kali dimuat di syamsuddinharis.wordpress.com.